Thursday, June 18, 2015

Katanya Sih Pencinta Alam? Katanya,,,


Sejak remaja, gue kagum sama yang namanya pendaki gunung. Mereka tuh orang yang kuat, mampu berjalan kaki berjam-jam dengan kontur jalan yang gak menentu, ditambah beban carrier yang beratnya nauzubillah. Hidup mandiri juga bukanlah hal yang baru untuk mereka, karena ketika mereka berada di pegunungan, mereka harus mampu masak sendiri, mengenal jalan dan bagaimana bertahan hidup jikalau ada kejadian yang tak diinginkan. Misalnya tersesat, tentu mereka hafal tumbuhan apa yang bisa dimakan atau gak. Duh ngerasa ada pelindung deh kalau ada si pendaki.


Penampilan si pendaki juga keren loh,, hemm pake kaos dibalut kemeja flanel, celana dengan ribuan saku, sepatu gunung yang kuat dan tas yang super gede digendongannya, eh iya tak lupa dong dengan rambut gondrong dan syal yang menutupi kepalanya, ya ampun kesan macho pun tersemat di diri si pendaki, kereeen <3<3 ditambah dengan gelar si pencinta alam yang melekat, duh makin tambah keren deh, alam aja dicintai apalagi gue gitu ya, woahahahah. :)) Pendaki gunung juga mengajarkan satu hal, bahwa untuk melihat keindahan yang luar biasa butuh perjuangan yang tak mudah.


Karena dibayangan gue pendaki gunung itu keren, gue sempat punya keinginan untuk mendaki gunung meski bisanya cuma sampai di lereng gunung Tampomas doang, itu pun waktu ngikut acara “napak tilas” di SMA, banyakan pula dan ya ampun capeknya huah. Tapi, sekarang setelah gue baca berita tentang dosa para pendaki terhadap alam, kekerenan seorang pendaki sudah pudar dibayangan gue, buat gue jauh lebih keren tukang sampah dengan baju oranye dibanding si pendaki gunung. Pendaki gunung tak lebih dari si perusak alam. Gue pikir singkatan MAPALA yang artinya Mahasiswa Pencinta Alam harusnya diubah dengan Mahasiswa Perusak Alam. Kenapa? Lihat saja foto dibawah,

Mirisnya,,
Sampah Gunung Gede
sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/pendaki-doyan-buang-sampah-kini-gunung-gede-mirip-bantar-gebang.html






Sedih gue lihatnya,,
Sampah Gunung Semeru

sumber: www.wisatagunung.com

Kelakuanmu wahai pendaki gunung,,,

Sampah Gunung Rinjani
 
sumber : http://travel.detik.com/read/2015/05/29/124106/2928608/1382/hai-kamu-jangan-buang-sampah-di-gunung-rinjani


Sungguh patut ditiru dan diapresiasi?,, prok,, prok,, prok,, :|

Sampah Gunung Gede
sumber: http://beritacenter.com/gunung-gede-dikotori-pendaki-tumpukan-sampah-dimana-mana/

 


Dengan melihat foto-foto itu, kekerenan apa yang tersisa dari seorang pendaki gunung? Coba terangkan?! Adakah?! 

Kalau mau lihat foto lain mudah saja, search d gugel "sampah pendaki gunung" bertebaran dah tuh oleh-olehnya,,

Hah,, acungkan jempolmu teman untuk mereka!! 


Itu oknum neng?!
Yakali oknum sampai sampahnya aja “berton-ton” > Libur Panjang, Sampah Pendaki Semeru Mencapai 1,5 Ton malah sampe mirip bantar gebang? >Pendaki Doyan Buang Sampah Kini Gunung Gede Mirip Bantar Gebang hah?! dan itu gak cuma di satu atau dua gunung doang? > Masalah Sampah Rinjani, Ternyata Juga Terjadi di Gunung Lain di Indonesia, lagian mana ada oknum yang sampahnya segitu banyaknya, itu sih bukan oknum tapi, emang sebagian besar pendaki yang ngelakuin hal memalukan kaya gitu?! Kalau namanya oknum, cukuplah dua karung sampah, inih mah apa atuh, bener-bener mukegile lu ndro!!

Itu karena film 5 km sih jadi para abege labil pada ngeksis?
Bisa jadi, bisa tapi bukankah film 5 km diadaptasi dari novel yang penulisnya pernah mendaki gunung, dan tentu sebelum si penulis ada pendaki yang lainnya,, kalau pendaki gak ada di dunia ini, gak ada yang memulai mendaki gunung, mungkinkah hal itu akan terjadi?


Itu sih penikmat alam bukan pencinta alam?
Apa bedanya teman? apa karena si penikmat buang sampah sembarangan terus si pencinta tidak membuang sampah di gunung? Hanya itu? hanya ituuuu?!!! Siapa yang bisa membedakan, siapa tahu kalau ternyata si pencinta juga ikutan buang sampah? Namanya aja keren, pencinta alam tapi, yang kamu lakuin hanya naik gunung, nyampe puncak, foto-foto, pulang, udah gitu aja? Lalu apa yang kamu lakuin untuk alam yang dicintai itu? hah?! Menanam pohon? Merehabilitasi hutan? Berbuat kebaikan untuk warga setempat dengan meninggalkan oleh-oleh berupa sampahmu? Hemmm, numpang buang eek sih iya, gak ada bedanya gunung sama toilet :| > Tega Deh, BAB Sembarangan di Jalur Pendakian Rinjani

Pencinta alam,, ada satu qoute yang gue dapet dari sebuah drama yang bilang begini, lawan kata dari aku mencintaimu bukanlah aku tidak mencintaimu tapi, tak ada lagi yang bisa kulakukan untukmu”,, nah jadi apa yang kamu lakukan untuk alam yang kamu cintai itu? Mencemari air? Mandi di mata air pegunungan dengan pake sabun? Hah!? Cerdas!

Buat gue, pencinta alam yang sebenarnya bukan dia si pendaki gunung tapi, dia yang menjaga dan melestarikan alam seperti yang dilakukan oleh suku yang ada di papua sana. Kamu tahu di sana masih ada hutan yang masih terjaga kelestariannya, istilahnya masih perawan ting-ting bo. Ya, secara dijaga sama suku primitif. Coba deh kalau semua yang ngaku pencinta alam kelakuannya kaya mereka,, bisakah?

Seandainya gue jadi presiden, gue bakal mengurangi dia yang mengotori alam dengan cara berikut ini,,
Pertama, menaikkan biaya masuk pendakian, Rp 1.777.777 cukuplah untuk biaya masuknya. Jadi orang yang mendaki gunung benar-benar orang yang punya keinginan kuat untuk mendaki. Bukan sekedar hura-hura terus plung sampahnya dibuang sembarangan. Hueeek. Dasar norak!! Mungkin akan banyak pendaki yang protes terus koar-koar demo. Kaya orang dengan pemikiran sampah kaya gini?
Ah bodo amat daripada gunung rusak dan berakhir jadi TPA mending di demo deh!!

Ke dua, menjadikan gunung atau hutan yang ada di Indonesia sebagai tempat eksekusi para narapidana yang divonis hukuman mati. Mungkin akan mirip dengan hutan Aokigahara di Jepang sana yang jadi tempat keren buat bunuh diri.  Eksekusinya cukup dengan hukuman gantung dan mayatnya dibiarin membusuk disana. Hiii ngeri kan ne,,

Ke tiga, mengumpulkan seluruh dukun/orang pintar/paranormal yang ada di seluruh Indonesia untuk memindahkan jin dan setan dengan berbagai jenis ke semua gunung yang ada di Indonesia. Mantep kan? Udah mah gunung tuh banyak hihih nya, terus ditambah lagi setan/jin nya, makin ngeri,,

Kalau ketiga cara tersebut masih belum mengurangi minat orang untuk mendaki gunung juga, oke gue bakal ngelakuin hal ini,,
Ke empat, gue akan suruh tentara berbadan tegap dan memakai senapan untuk menjadi penjaga pos pendakian, mungkin 5 orang tentara di pos masuk gunung =D Kemudian, pendaki diwajibkan untuk membawa sampah minimal 2 kg setiap akan turun gunung, kalau tidak mau, maka pendaki akan disuruh untuk kembali ke gunung dan membawa sampah yang kurang. Kalau tidak mau juga? ya udah kartu identitasnya di simpen aja di pos untuk dijadikan daftar orang yang gak boleh mendaki gunung alias di black list dan tentu harus membayar denda sebanyak Rp 1.888.888 setiap 1 kg sampah. B-) atau, di dor di tempat aja kali ya? Hemm boleh juga,,

Ke lima, memberi perintah kepada perusahan obat yang ada di Indonesia untuk memproduksi obat, yang membuat manusia tahan untuk tidak boker selama seminggu =D mantep kan biar para pendaki gak buang tokai sembarangan di gunung. Lu pikir gunung itu toilet? Hah!!

Ke enam, hewan buas yang ada di kebun binatang akan gue sebar ke seluruh gunung di Indonesia. Pemburu? Ah gue kan udah nyuruh tentara dengan senapannya buat jaga, kalau ada yang bandel tinggal dor. Mampus dah. Woahahahah!!

Ke tujuh, ini yang paling efektif, kalau si pendaki masih aja membandel dengan menodai alam, gue akan meniadakan pendakian di seluruh gunung yang ada di indonesia.  keren kan? tapi pasti banyak yang protes :|


Udeh deh kayanya,, itu cara yang bakal gue lakukan untuk mengurangi para abegeh labil ngeksis di gunung,, ya kalau gue jadi presiden sih =D

Sejatinya jika kamu mengaku sebagai pencinta alam, kamu gak akan membiarkan satu bungkus permen pun jatuh ke atas tanah yang kamu cintai itu tapi, melihat foto diatas, kayanya gak ada yang namanya pencinta alam,,,

Terakhir dari gue, biarkan alam hidup secara damai, tanpa kamu mendaki pun alam akan tetap baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik, alam gak akan mengenal sampah plastik, vandalisme, pipis dan eek kamu

Bye,,

29 comments:

  1. Jika mereka pecinta alam sejati, maka mereka tidak akan melakukan hal-hal demikian. Karena bagi pecinta alam sejati yang boleh di tinggal ketika balik dari gunung adalah jejak kaki dan mereka menghargai alam.

    Beginilah jadinya kalau ikut mendaki hanya untuk gagah-gagahan, terinspirasi dari film (ikut tren) dan ingin di bilang sebagai pecinta alam.

    ReplyDelete
  2. Wadoh...baru tau gajta yg begini mbak..
    Turut prihatin campur gemes sih..mbog ya sampahnya jgn dibuang di situ gitu yak, dibawa turun lg aja, trs buang ditmpat sehrusnya...
    Izin share ya mbak

    ReplyDelete
  3. Mereka bukan pencinta alam, tapi pendaki gunung, yang kerjanya mendaki ke puncak gunung, foto-foto, hahahihi, nggak ngejaga alam lalu turun gunung lagi.

    Mungkin ada perhatian lebih bagi pengelola untuk membuat wc umum buat nampung tuh tokai dan sediain tempat sampah keren.

    Saya juga nggak suka naik gunung mba, ngapain capek jauh-jauh naik gunung, kalo di rumah udah ada gunung kembar!! Eh...

    ReplyDelete
  4. Wah lama gak kesini,, yang screenshot facebook tuh sempet rame di twitter. Aku juga sempet stalking facebooknya reaksinya malah nantangin gitu. Dia ngakunya naik gunung cuma pingin foto-foto doang. Esensi pendakian gunung hilang karena naik gunung cuma pingin foto-foto aja.

    Saran untuk pemindahan penjara ke gunung juga bagus tuh apalagi yang tempatnya terpencil jadi tahanannya nggak bisa kabur. Terus pas hukuman mati tinggal dicemplungin ke kawah gunungnya.

    Terakhir kalo yang namanya cinta itu akan dijaga supaya tetap bagus dan bukan merusaknya.

    ReplyDelete
  5. Kalo menurutku, mereka itu gak lebih cuma alay yang pengen eksis.. Biar dibilang keren di socmed karena posting soal mendaki entah itu dalam bentuk foto atau apapun.. Alay mana peduli ama alam? Alay cuma peduli gimana cara supaya mereka tetep "eksis"..

    Maaf esmosi

    ReplyDelete
  6. Nggak hanya di gunung. Di air terjun yg di pelosok-pelosok juga banyak sampahnya. Mungkin karena emang kebiasaan orang kita itu sukanya buang sampah sembarangan (nggak menyimpan sampah sampai pulang ke rumah / nemu tempat sampah). Jadi, mau pendaki gunung atau nggak ya sebenernya sama saja kalau masih punya kebiasaan kayak gitu.

    Tapi idemu produksi obat supaya bikin orang nggak boker itu bagus juga :D

    ReplyDelete
  7. Menurut gue, ini yang salah adalah konteks dari orangnya itu sendiri, sih. Soalnya, dari cerita yang panjang ini, banyak hal yang harus diperhatikan lagi. Sejatinya, gak semua pecinta alam itu, suka manjat gunung. Soalnya, semenjak ada film yang menggunakan latar gunung, makin jelas banyak peminat baru yang awalnya gak suka naik gunung, jadi ikut-ikutan naik gunung.

    LAh, itu udah jadi trend menurut gue, sih. Soalnya, bener adanya yang cinta alam itu, hanya segelintir orang yang benar-benar cinta dengan alam. Mereka penikmat alam yang indah ini. Kalo pendaki sendiri, gue gak mengesensikan mereka orang pecinta alam, pasalnya. Banyak temen gue jorok orangnya, tapi suka naik gunung.

    Akhir kata, gue cuma mau bilang. Kalo bisa cinta dengan alam, gue berterimakasih atas itu. Tapi, jangan merusaknya, ya.

    ReplyDelete
  8. gua ga pernah naik gunung sih. ga ada waktu buat itu. dan ga tertarik dengan pendakian maupun pencintaan alam...

    dan tidak bisa serta merta menyalahkan pendaki pemula yg alay yg masih suka buang sampah sembarangan di gunung2. emangnya mereka yg alay2 itu bisa tau dengan sendirinya jalur ke puncak gunung? pasti ada pemimpinnya. nah pemimpinnya inilah yang menurut gua yg punya andil sangat besar atas sampah2 yg mungkin dibuang oleh anak buahnya. itu!

    ReplyDelete
  9. Miris banget lihatnya..... Kalau di gunung sampah numpuk seperti itu, apa bedanya di kota?

    ReplyDelete
  10. Udah sering denger sih pendaki gunung yang kaya gitu. Miris juga gue denger-nya.

    Mungkin perlu dibuat tempat sampah yang bagus... Trus buat para pendaki abis naik gunung turunnya bawa sampah masing-masing...

    Itu semua tergantung orangnya masing-masing sih. Semoga mereka para pendaki gunung yang suka kaya gitu bisa sadar secepetnya.

    ReplyDelete
  11. Sebagian mbak yang daki gunung, badannya aja yang gede ngakunya aja mahasiswa padahal otak dan pikirannya kayak anak SD. Aku juga pas daki gunung di medan nemu gundukan sampah yang segunung. Daripada dibuang disekitar gunung, lebih baik siap makan langsung kumpulin dan dibakar.

    Eh pict yang akun faceboonya ngomel2 harga tiket daki 22.500 itu kelewat bodoh, ya.
    Segitu aja ngomel, tapi kalau disuruh buat ngisi pulsa pacar 50.00+bayarin makan gak pernah ngomel malah nurut.
    Kirim salam ya mbak sama tuh orang :D

    ReplyDelete
  12. Gue merasakan emosi yang menggebu gebu dari setiap kata yg lu tulis mbak ahha sabar yaa. apa lagi PMS nih

    Yah gue bukan anak gunung, dan engga begitu peduli sama mereka juga. tp lagi rame di media sosial tuh yang suka buang sampah sembarngan di gunung. Padahl kalo mau, marahin jg dong yang buang sampah di jalanan gitu hehe

    ReplyDelete
  13. duh miris banget liatnya, pecinta alam malah buang sampah di alam yang seharusnya dipandangi bukan dikotori. tapi kayaknya orang yang daki gunung cuma karena pengen pamer aja deh. foto-foto di atas gunung.

    btw, saya pernah baca gitu, pendakian gunung kadang jadi ajang buat kumpul kebo.

    kan mereka dirikan tenda dan tenda itu suka dipake oleh pasangan muda-mudi yang buat mesum di gunung.


    ahaha, caranya kejam banget bawa-bawa dukun, tentara dan heewan buas juga

    ReplyDelete
  14. Ini terjadi ketika naik ke gunung ato bahasa gaulnya 'muncak' menjadi sebuah tren dimana kalo ada yang udah muncak bakal dibilang gaul, kekinian dan bla... bla... bla... Otomatis kalo udah jadi sebuah tren, yang naik ke gunung bukan pecinta alam lagi, tapi semua jenis makhluk alay dari kota yang pengen dibilang gaul.

    Gue suka ngeliat kelakuan temen kampus gue yang cewek-cewek yang seminggu itu bisa naik gunung dua kali. Kelakuan mereka yang simpel aja waktu masih kuliah suka buang sampah sembarangan kok. Kalo di kampus aja gitu, apalagi di gunung.

    ReplyDelete
  15. sudah nggak heran lagi dah dengan yang beginian, watak dan karakter orang Indonesia kebanyakan emang udah kaya gitu. maunya cuman menikmati keindahan tapi tak punya tanggung jawab untuk melestarikan keindahan yang sudah dinikmatinya.
    disekolah gue aja juga berserakan sampah, dan kebiasaan buruk gue kalau sampah berserakan selalu menyalahkan anak siswa pencinta alam, padahal sebenarnya kebersihan adalah tanggung jawab bersama. jadi juga harus menjaga kebersihan bersama-sama

    ReplyDelete
  16. Awal gue tau berita tentang perusak-perusak alam ini dari kaskus. Disitu ada thread yang ngebahas sampah-sampah di gunung dan thread itu jadi hot thread. MAyoritas sampah yang ditemuin di puncak adalah sampah kertas. Banyak orang-orang yang komen di thread itu dan yang komen mayoritas anak gunung. katanya itu adalah kelakuan ABG-ABG zaman sekarang yang ikut-ikutan "trend naik gunung." Mereka naik gunung tanpa adanya persiapan.
    Padahal kalo mereka pecinta alam sejati, mereka nggak akan nyampah sembarangan gitu aja. Sampah-sampah seharusnya mereka bawa turun lagi. Ada satu quotes juga yang gue baca, "kalo kita naik gunung, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak."

    Bener-bener miris ngeliatnya :(

    ReplyDelete
  17. baru tahu ternyata kelakuan pendaki gunung gituh yah,, mau nya enak doank yah

    ReplyDelete
  18. Wah iya nih emang jgn hanya bisa menaiki namun harus bisa juga menjaga

    ReplyDelete
  19. namanya aja bagus MAPALA tapi tidak sesuai dengan namanya, kalau gitu mending ga usah mendaki ke gunung aja, mendaki ke mall aja biar eksis :D
    mall aja bersih, masa gunung gak bersih -_-

    ReplyDelete
  20. gue bukan pendaki gunung atau sejenisnya itu. naik gunug cuma satu kali kayaknya, dan gak buang sampah sembarangan... ... gue cuma tahu satu, kayaknya kamu aktivis lingkungan deh,ya kan? :)

    ReplyDelete
  21. mencintai alam itu mudah, jangan buang sampah sembarangan

    ReplyDelete
  22. semua sampah harus dibawa turun lagi dan dibuang di tempatnya,, apalagi sampah bekas nulis2 quote di kertas buat di poto, hehehehe

    ReplyDelete
  23. Gilak tuh emang, sampah masa bisa sampe segitunya...jadi jelek bangettt..padahal itu sbeenarnya dari sampah kecil kecil..coba kalo mereka bawa pulang sampah mereka juga khan ga bakal jadi kayak gini..masa ke gunung bisanya cuman ngasih ucapan di kertas doang terus difoto tapi ngejaga tempat ga bisa...ckckc..kalo udah ayak gitu yang bawa ke bawah gimana coba??

    Jadi pingin naik gunung deh cc..oh ya, maap ya kelewat hehehe.

    ReplyDelete
  24. duh emosi banget si mba sepertinya. sama, saya juga emosi tiap kali dengar hal beginian. namun jangan sampai emosi itu membuat kita terlihat kurang bijak :)
    pecinta alam itu ada, dan mereka benar-benar mencintai alam. mereka mengunjungi gunung, laut, hutan, hanya untuk mengenyahkan kepenatan, jauh sebelum mendaki gunung jadi tren, jauh sebelum ada film maupun novel 5cm, banyak orang yang sudah mendaki gunung dan alhamdulillah tidak ada tuh yang namanya sampah di gunung.

    ReplyDelete
  25. Wah parah banget yah kirain cuman di Sulawesi aja tuh kasusnya ternyata di daerah jawa juga parah. Disini bukan cuman gunung aja mbak, bahkan sungai, danau, sampe air terjun udah amburadul gak karuan tuh sampah. Mulai dari bungkus makanan sampai tisu udah berserakan dimana-mana. Miris banget deh

    ReplyDelete
  26. wah ada yang nyigung MAPALA, hehe...., ane juga mapala n ane jg akui kok mapala belum tentu pencinta alam,tapi alhamdulilla mapala q tidak ikutan nyampah di setiap kegiatan kita di alam,selesai kegiatan sampah kita cangking,alias di buang ke tempatnya,ane alumni mapala n tau benar siapa yang pencinta alam siapa yang menikmat alam yg doyan selpi,klo mapala yng didikan dri pendahulunya bener ya ga mungkin nyampah di alam,ya kembali ke person masing2,krna masyarakan indonesia kesadaran tuk buang sampah di tempatnya sangat kurang,

    ReplyDelete
  27. Prihatib dengan pendaki jaman sekarang. Mgkn ga pantes disebut pendaki. Cuma org yg pengen eksis, ngikutin tren, biar dikira kuat.

    ReplyDelete
  28. Mereka koar2 cinta alam, padahal tuh para pendaki itu adalah orang yang paling andil dalam merusak alam sekitar gunung, mending kita, ga pernah daki gunung, memang tidak ikut memelihara namun setidaknya kita tidak ikut merusak, kan ada pribahasa kalau tidak mampu memelihara, minimal jangan merusak

    ReplyDelete

silahkan komentar asal jangan rese apalagi ngeselin. ;)
yang spam, sara, saru, oot gue hapus!