Sunday, September 11, 2016

Semakin Malas


Postingan ini murni curhatan, yang gak suka baca curhatan mending jangan dibaca. Serius!! Bulan Agustus kemarin gue pernah cerita tentang kesialan-kesialan  yang gue alami dan ternyata kesialan itu berubah menjadi hal yang tidak menyenangkan. Bisa disebut sial juga sih. Heran gue, koq kesialan yang menimpa gue datangnya bertubi-tubi. Ngenes, kayanya gue perlu diruwat  deh :|


Di salah satu postingan kesialan itu gue menceritakan bagaimana tersiksanya gue memakai celana ketat ketika melamar kerja karena hal itu ada orang yang berkomentar kalau gue hanya menjual penampilan. Sakit hati gak sih loooo? secara gak langsung dia bilang kalau gue mencari kerja dengan menjual penampilan bukan karena otak atau kemampuan gue. Emang gue bodoh banget  ya, sampai hanya bisa menjual penampilan? Begitu?  Ya sih gue akuin ko gue gak pintar, kalau gue pintar mungkin gue udah bisa ngalahin Einstein :| gak apa-apa, sok aja bilang kalau gue menjual penampilan, iya menjual penampilan, menjual penampilan layaknya wanita pees,, ah sial, sakit hati gue!


Bukan hanya itu, tulisan gue juga dikomentari kalau tulisan gue gak enak dibaca karena penggunaan diksi. ya maaf aja sih gue emang bukan penulis pro yang tulisannya enak dibaca. Apalah atuh, gue cuma wanita yang berkeluh-kesah di blog. Kalau mau nyaman membaca tulisan yang enak dibaca sesuai selera silahkan mencari tulisan yang sesuai. Toh gue gak pernah meminta atau memaksa orang buat baca tulisan gue. Lagian gue juga gak dibayar buat nulis di blog. Huh, udah mah dibilang menjual penampilan terus dikomentari seperti itu, ya gue jadi makin sakit hati lah. Dia tuh kaya menabur garam di luka gue.


Dulu gue pernah gencar blogwalking, membaca tulisan dengan berbagai gaya. Ada yang tulisannya taat aturan alias sesuai EYD. Ada juga yang bebas lepas gak nurut sama EYD tapi, enak dibaca karena mengalir begitu saja dan gak sedikit blog yang tulisannya garing, membosankan yang bikin mata merem melek saking panjangnya. Saat gue merasa wajib kunbal ketika blogwalking, mau gak mau gue harus membaca semua tulisan itu dan gue komentari. Menyenangkan sih ketika membaca tulisan yang nyaman dibaca tapi, ada saatnya gue merasa tersiksa ketika membaca tulisan orang lain dan hal ini yang membuat gue berhenti blogwalking. Selain gue bisa terbebas dari jenuhnya membaca tulisan yang membosankan, ada satu hal yang membuat gue berhenti blogwalking yaitu gue minder dengan tulisan gue.


Selama gue gencar blogwalking, gue menemukan banyak tulisan yang bagus dan kemudian gue bandingkan dengan tulisan gue. Ya ampun, tulisan gue mah gak ada apa-apanya. Kalau melihat tulisan yang sesuai EYD, gue malu karena menggunakan bahasa semau gue yang semrawut dengan penggunaan kata yang melenceng dari EYD. Kemudian ketika gue melihat blog yang bahasanya semau gue tapi, enak dibaca, gue minder karena dia menceritakan kehidupannya yang menyenangkan. Lah gue idupnya gini-gini aja gak ada yang menghibur apalagi menantang.


Oleh karena itu, gue berhenti blogwalking karena gue sadar tulisan gue emang jelek dibandingkan dengan mereka. Gue gak mau mereka tersiksa karena membaca tulisan gue yang hancur ini. Kasihan gue sama mereka yang membaca tulisan gue, karena gue pernah merasakan bagaimana tersiksanya membaca tulisan yang nggak banget. Sejak gue sadar akan hal itu, gue udah gak pernah lagi menshare tulisan di komunitas blog palingan gue share di facebook pribadi gue dan G+. Kalau G+, itu juga karena otomatis langsung share.


Balik lagi ke pokok masalahnya, dia bilang kalau sebagai pembaca bebas dong mengomentari kalau gak mau dikomentari ya udah tulis aja di diary!! Haha,, boleh kan ketawa sinis dulu? Emm gimana ya, kalau seandainya ada pembaca yang gak suka sama tulisan gue, ya udah sih jangan dibaca. Sekarang kalau gue menemukan blog yang judulnya menarik tapi, ketika dibaca ternyata tidak sesuai harapan, langsung gue close. Buat apa juga membaca sampai beres kalau hal itu membuat gue pusing? Gue komentari? Kagak, buat apa, karena gue pikir ya udah sih, gue juga gak bayar dia ngapain gue komentari tulisannya yang garing itu. Gue punya hak gitu? Suka-suka dia lah mau nulis kaya gimana juga karena selera orang dalam menulis kan beda-beda. Misalnya, banyak yang bilang Radityadika itu tulisannya lucu banget tapi, buat gue tulisannya jayus. Haruskah gue meminta Radityadika untuk mengubah tulisannya agar sesuai dengan selera gue? lah, kalau kaya begitu, itu berarti bukan gaya Radityadika tapi, gaya gue. Emang dia bakal nyaman nulisnya?


Terakhir gue mau bilang, mau dibaca silahkan kalau gak suka silahkan minggat dan gue cuma mau menyarankan untuk mencari tulisan yang sesuai selera. Lagian gue menulis di blog ‘khusus curhatan/pengalaman’ buat gue sendiri bukan untuk pembaca. Ribet banget deh jadi orang!  Jujur saja dengan kejadian ini gue makin minder untuk share tulisan dan makin malas buat nulis tentang apa yang gue alami dan gue rasakan. Malas dinyinyirin dan sakit hati lagi, gue orangnya sensi, sekali gue sakit hati, mungkin gue akan dendam kesumat sampai akhir hayat. hahaha. Ke depannya mungkin gue akan lebih sering share tentang k-drama atau k-pop saja, lebih aman dan damai.

1 comment:

  1. terserah apa kata orang dek, tulisan kita ya tulisan kita, kenapa orang lain yang repot. hahaha, kalau jelek kenapa mereka baca? ya kan :)

    ReplyDelete

silahkan komentar asal jangan rese apalagi ngeselin. ;)
yang spam, sara, saru, oot gue hapus!